Memilih jurusan dari pekerjaan yang benar-benar ada, bukan dari nama yang terdengar keren
Banyak calon mahasiswa memilih jurusan berdasarkan citra, bukan berdasarkan pekerjaan yang menunggu di ujungnya. Membalik urutan berpikir itu bisa menghemat bertahun-tahun.
Setiap tahun, ribuan lulusan SMA mengisi formulir pendaftaran dengan satu pertanyaan yang sama: jurusan apa yang harus saya ambil? Jawaban yang paling sering muncul datang dari nama jurusan yang terdengar bergengsi, saran orang tua, atau pilihan teman dekat. Yang jarang dilakukan adalah memulai dari ujung yang lain: pekerjaan seperti apa yang sebenarnya ingin dijalani, lalu jurusan mana yang paling masuk akal menuju ke sana.
Membalik urutan berpikir ini terdengar sederhana, tetapi jarang dipraktikkan karena membutuhkan riset yang membosankan. Pekerjaan nyata tidak tampil di brosur kampus. Ia tampil di lowongan kerja, di deskripsi tugas harian, dan di cerita orang-orang yang sudah menjalaninya selama beberapa tahun.
Baca juga: Organisasi kampus menjadi tempat latihan kerja pertama, asal dijalani dengan sengaja
Mulai dari lowongan, bukan dari brosur
Cara paling murah untuk memahami realitas kerja sebuah bidang adalah membaca lowongan pekerjaan untuk posisi yang diincar, bukan hanya posisi pemula tetapi juga posisi yang biasanya dicapai lima tahun kemudian. Perhatikan keterampilan yang diminta berulang-ulang, alat yang disebutkan, dan latar belakang pendidikan yang dianggap relevan. Sering kali, yang diminta bukan nama jurusan tertentu, melainkan kemampuan yang bisa datang dari beberapa jurusan sekaligus.
Latihan ini juga mengungkap sesuatu yang penting: ada jurusan yang namanya terdengar spesifik tetapi lulusannya tersebar ke banyak bidang, dan ada jurusan yang terdengar umum tetapi justru menjadi syarat ketat untuk profesi tertentu. Tanpa membaca lowongan, perbedaan ini tidak terlihat.
Langkah berikutnya adalah berbicara dengan orang yang menjalani pekerjaan itu. Bukan untuk meminta nasihat memilih jurusan, melainkan untuk bertanya tentang hari kerja mereka: apa yang dikerjakan dari pagi sampai sore, bagian mana yang membosankan, dan apa yang membuat mereka bertahan. Jawaban-jawaban ini sering lebih jujur daripada deskripsi program studi mana pun.
Membedakan minat dengan citra
Ada perbedaan besar antara menyukai citra sebuah profesi dan menyukai pekerjaan sehari-harinya. Seseorang bisa tertarik pada gambaran arsitek yang merancang gedung indah, tetapi tidak tahan dengan jam panjang menggambar detail teknis dan revisi berulang. Seseorang bisa tertarik pada citra dokter, tetapi tidak membayangkan jalur pendidikan yang sangat panjang dan beban kerja di awal karier.
Cara mengujinya adalah mencoba potongan kecil dari pekerjaan itu sebelum memilih. Mengikuti kelas daring singkat, magang beberapa pekan di masa libur, atau sekadar mengerjakan proyek kecil yang meniru tugas nyata bisa memberi sinyal lebih jelas daripada tes minat bakat mana pun.
Jurusan bukan vonis seumur hidup
Perlu diingat pula bahwa jurusan tidak mengunci seseorang selamanya. Banyak orang bekerja di bidang yang tidak persis sama dengan ijazahnya, dan perpindahan itu normal. Yang membuat perpindahan lebih mudah adalah keterampilan dasar yang bisa dibawa ke mana-mana: menulis dengan jelas, berpikir dengan angka, dan mampu belajar hal baru secara mandiri.
Jadi, pertanyaan yang lebih berguna daripada 'jurusan apa yang paling bagus' adalah 'jurusan mana yang membuka pintu ke pekerjaan yang saya pahami dan bersedia jalani, sekaligus memberi keterampilan yang tetap berguna jika saya berubah pikiran'. Pertanyaan itu lebih panjang, tetapi jawabannya jauh lebih tahan lama.