Edisi 16 Oktober 2026Belajar hari ini, dipakai besok.
← Jalur KarierKerja Pertama

Menghadapi atasan yang buruk tanpa merusak karier sendiri

Hampir setiap orang akan bertemu manajer yang sulit pada suatu titik. Membedakan jenis masalahnya menentukan apakah jawabannya bertahan, berbicara, atau pergi.

Menghadapi atasan yang buruk tanpa merusak karier sendiri
Foto: D / Wikimedia Commons (CC BY 4.0)

Salah satu pelajaran paling mengejutkan di pekerjaan pertama adalah betapa besar pengaruh satu orang, yaitu atasan langsung, terhadap kualitas hidup sehari-hari. Deskripsi pekerjaan yang sama bisa terasa seperti kesempatan emas di bawah satu manajer dan seperti hukuman di bawah manajer lain. Dan karena atasan jarang bisa dipilih, kemampuan menghadapi yang sulit menjadi keterampilan kerja tersendiri.

Langkah pertama yang sering dilewati adalah membedakan jenis masalahnya. Tidak semua atasan yang menyebalkan itu buruk, dan tidak semua yang buruk itu sama. Cara menghadapi manajer yang sibuk dan tidak responsif sangat berbeda dengan menghadapi manajer yang mempermalukan bawahan di depan umum.

Baca juga: Tiga bulan pertama di kantor: apa yang sebenarnya dinilai dari karyawan baru

Memetakan jenis masalahnya

Kategori pertama adalah atasan yang kurang terampil mengelola: instruksi kabur, prioritas berubah-ubah, umpan balik tidak pernah diberikan. Ini menjengkelkan tetapi sering bisa dikelola oleh bawahan yang proaktif, misalnya dengan merangkum kesepakatan rapat secara tertulis dan menanyakan prioritas secara eksplisit setiap pekan.

Kategori kedua adalah atasan yang tidak cocok secara gaya: terlalu mengawasi detail, atau sebaliknya terlalu lepas tangan. Di sini, percakapan jujur tentang cara kerja yang disukai masing-masing sering membantu, karena banyak manajer tidak sadar bahwa gayanya menyulitkan.

Kategori ketiga adalah atasan yang merusak: merendahkan, mengambil kredit pekerjaan orang lain, membalas kritik dengan hukuman, atau melanggar batas pribadi. Untuk kategori ini, strategi bertahan dan beradaptasi punya batas, dan terlalu lama bertahan bisa merugikan kesehatan serta rasa percaya diri.

Alat yang tersedia sebelum memutuskan pergi

Untuk dua kategori pertama, dokumentasi adalah teman terbaik. Mencatat kesepakatan, tenggat, dan perubahan arahan secara tertulis melindungi diri dari tuduhan salah paham sekaligus memperjelas komunikasi. Meminta pertemuan rutin singkat untuk menyelaraskan prioritas juga sering mengubah dinamika tanpa perlu konfrontasi.

Jika masalahnya lebih serius, kebanyakan organisasi memiliki jalur lain: atasan dari atasan, bagian sumber daya manusia, atau mekanisme pengaduan. Jalur ini tidak selalu bekerja dengan baik, tetapi menggunakannya dengan bukti tertulis dan nada yang profesional memberi peluang lebih besar daripada mengeluh secara informal.

Kapan pergi adalah jawaban yang benar

Ada titik di mana pertanyaannya bukan lagi bagaimana bertahan, melainkan berapa lama lagi. Jika kesehatan mulai terganggu, jika setiap hari diawali rasa takut, dan jika upaya berbicara sudah dilakukan tanpa perubahan, mencari pekerjaan lain adalah keputusan yang rasional, bukan tanda menyerah.

Yang penting adalah pergi dengan rapi: menyelesaikan pekerjaan yang bisa diselesaikan, menjaga hubungan dengan rekan kerja, dan menahan diri dari membakar jembatan, bahkan ketika godaannya besar. Industri di Indonesia sering lebih kecil daripada yang dibayangkan, dan reputasi profesional bergerak lebih cepat daripada orangnya.

UW
Umar WulandariUmar adalah penulis baru yang mulai pada 2026 dan sudah menyumbang empat artikel tentang kerja jarak jauh, atasan yang sulit, dan lamaran beasiswa. Ia menulis dari pengalaman bekerja lintas zona waktu dengan tim yang bangun ketika ia hendak tidur.