Edisi 16 Oktober 2026Belajar hari ini, dipakai besok.
← Jalur KarierSkill

Belajar bahasa Inggris untuk bekerja berbeda dengan belajar untuk ujian

Bertahun-tahun pelajaran bahasa Inggris di sekolah sering tidak menghasilkan kemampuan menulis email atau mengikuti rapat. Masalahnya ada pada sasarannya.

Belajar bahasa Inggris untuk bekerja berbeda dengan belajar untuk ujian
Foto: M / Wikimedia Commons (CC BY-SA 4.0)

Banyak pekerja Indonesia mengalami hal yang sama: bertahun-tahun belajar bahasa Inggris di sekolah, skor tes yang lumayan, tetapi tetap gugup ketika harus membalas email dari klien asing atau berbicara di rapat dengan rekan dari negara lain. Kesenjangan ini bukan tanda kurang berbakat, melainkan tanda bahwa yang dipelajari dan yang dibutuhkan adalah dua hal yang berbeda.

Bahasa Inggris untuk ujian menghargai ketepatan tata bahasa, kosakata luas, dan kemampuan membaca teks panjang. Bahasa Inggris untuk bekerja menghargai kejelasan, kecepatan, dan keberanian berbicara meski tidak sempurna. Orang yang terlatih untuk yang pertama sering lumpuh pada yang kedua karena terlalu sibuk menghindari kesalahan.

Baca juga: CV satu halaman untuk lulusan baru: apa yang dibuang dan apa yang dipertahankan

Menentukan sasaran yang spesifik

Langkah pertama yang berguna adalah menyempitkan tujuan. 'Lancar berbahasa Inggris' adalah sasaran yang terlalu luas untuk dikejar. 'Bisa menulis email permintaan dan konfirmasi ke klien dalam lima menit' atau 'bisa menjelaskan status proyek dalam rapat mingguan' adalah sasaran yang bisa dilatih dan diukur sendiri.

Setelah sasaran jelas, bahan belajarnya menjadi jelas pula: contoh email nyata dari bidang yang sama, rekaman rapat atau presentasi di industri yang sama, dan daftar frasa yang berulang di situasi itu. Belajar dari bahan yang langsung dipakai jauh lebih efisien daripada buku tata bahasa umum.

Melatih keluaran, bukan hanya masukan

Kesalahan yang paling umum adalah menghabiskan waktu untuk menonton, membaca, dan mendengar tanpa pernah memproduksi. Pemahaman memang tumbuh dari masukan, tetapi kemampuan berbicara dan menulis hanya tumbuh dari praktik mengeluarkan kalimat, salah, lalu memperbaiki.

Latihan yang praktis bisa sangat sederhana: menulis ulang email yang biasa dikirim dalam bahasa Indonesia ke bahasa Inggris, merekam diri menjelaskan pekerjaan hari ini selama satu menit, atau menerjemahkan rangkuman rapat. Yang penting adalah frekuensinya, bukan durasinya. Sepuluh menit setiap hari jauh lebih berdampak daripada dua jam setiap akhir pekan.

Alat bantu penerjemahan dan pemeriksa tata bahasa bisa dimanfaatkan, tetapi sebagai pemeriksa setelah menulis, bukan sebagai penulis. Membandingkan versi sendiri dengan versi yang disarankan alat adalah cara belajar yang cepat; membiarkan alat menulis dari awal tidak mengajarkan apa-apa.

Menerima ketidaksempurnaan

Di tempat kerja internasional, kebanyakan orang juga bukan penutur asli, dan yang mereka hargai adalah pesan yang jelas, bukan tata bahasa yang sempurna. Kalimat pendek yang benar lebih berguna daripada kalimat panjang yang mencoba meniru gaya penutur asli. Ketakutan akan kesalahan sering lebih menghambat daripada kesalahannya sendiri.

Dengan sasaran yang sempit, bahan yang relevan, dan latihan keluaran yang rutin, kemampuan bahasa Inggris untuk bekerja bisa dibangun dalam hitungan bulan, bukan tahun. Bukan karena bahasanya mudah, melainkan karena kebutuhannya jauh lebih sempit daripada yang diajarkan di sekolah.

KS
Keisha SihombingKeisha bergabung pada 2025 dan masih aktif menulis di rubrik Skill, dengan enam artikel yang kebanyakan membahas sertifikasi, portofolio, dan bahasa Inggris untuk kerja. Ia pernah menyusun portofolio pertamanya hanya dari tiga proyek kampus yang ia kerjakan ulang dari nol.